Pahami Faktor Pemicu Alergi pada Anak Lebih Dini

Pahami-Faktor-Pemicu-Alergi-pada-Anak-Lebih-Dini

Alergi bisa muncul oleh berbagai sebab. Apalagi, di Indonesia, prevalensi alergi dan asma secara global telah mengalami peningkatan. Parahnya, alergi dan asma yang melonjak tersebut terjadi pada kasus anak-anak. Berdasarkan penuturan IDAI, di berbagai wilayah Indonesia, angka wilayah kejadian alergi beragam, mulai dari 3 hingga 60 persen. Alergi susu sapi adalah salah satu alergi makanan paling banyak yang dialami oleh bayi ataupun anak berusia kurang dari 3 tahun. Namun, sebelum mengklaim apakah sang buah hati Anda menderita alergi susu sapi atau tidak, sebaiknya perhatikan dulu gejalanya. 

Perlu diketahui, berdasarkan referensi Cek Alergi, alergi susu sapi berbeda dengan intoleransi laktosa. Meskipun kedua hal ini memiliki gejala serupa, namun baik reaksi alergi susu sapi ataupun intoleransi laktosa disebabkan oleh dua hal berbeda. Jika alergi susu sapi merupakan reaksi alergi akibat sistem imun, maka intoleransi laktosa bisa terjadi karena masalah sistem pencernaan anak. Untuk mengetahui seseorang menderita alergi susu sapi atau tidak, orang tua bisa memberikan challenge test. 

Gejala Alergi Susu 

Nah, apabila anak Anda sudah terdeteksi alergi susu sapi, maka gejalanya bisa terjadi pada berbagai bagian tubuh, seperti kulit, saluran cerna, ataupun saluran pernapasan. Gejala yang ditunjukkan pada kulit pada umumnya berupa dermatitis atopik yang ditandai dengan adanya kemerahan disertai gatal pada pipi si kecil. Sementara, gejala saluran napas berupa pilek, bersin-bersin, dan batuk kronik berulang. Beda lagi gejala saluran cerna akibat alergi susu sapi yang bisa ditunjukkan oleh timbulnya kembung, nyeri perut, dan diare. Mengingat luasnya spektrum gejala penyakit ini, maka diagnosis harus penting dilakukan oleh dokter pada anak melalui beberapa pemeriksaan tertentu. 

Bagaimana jika anak benar-benar terbukti menderita susu sapi? Maka, orangtua harus mengarahkan pada anak untuk tidak mengonsumsi zat pemicu alergi tersebut. Ingat, menghindari anak dari alergen, bukan berarti hanya tidak mengonsumsi susu berbahan dasar susu sapi saja, melainkan tidak mengonsumsi segala hal berupa minuman atau makanan yang mengandung susu sapi, seperti keju, yoghurt, es krim, hingga mentega. Inilah terkadang yang sering Ibu abaikan sehingga anak tiba-tiba menunjukkan gejala alergi bahkan ketika tidak minum susu sapi sekalipun. 

Bagi orangtua yang memiliki anak dengan diagnosis alergi makanan tertentu pun tetap harus berhati-hati saat memberikan asupan nutrisi pada anak. Pastikan, komposisi makanan atau minuman tersebut tidak mengandung protein alergen. Ditambah lagi, saat ini istilah produk olahan susu sapi yang beredar beragam. Misalnya, mentega dengan istilah artificial butter, butter, whipped butter, natural butter, butter flavored oil, dan masih banyak lagi. Begitupula istilah lain-lain seperti whipped cream, sour cream, lactabulmin, galactose, custards, dan masih banyak lagi. 

Dengan mengetahui lebih dalam dan detail terkait bahan dasar makanan dan minuman yang dikonsumsi si kecil, maka orangtua sudah menjalankan perannya dengan baik untuk menghindarkan si kecil dari reaksi alergi susu sapi. Ingat, alergi ini hanya bisa dideteksi dan dicegah. Pencegahan ini merupakan tindakan paling efisien guna menurunkan angka kejadian alergi. 

Bagi Anda yang belum tahu alergi pada anak, sebaiknya bica cek terlebih dulu pada website cekalergi. Pada website ini, Anda akan diminta mengisi formulir terkait data-data anak dan orangtua. Mulai dari riwayat alergi yang dimiliki Ayah atau Ibu, jumlah anak yang dimilikinya, jenis susu formula yang dikonsumsi, hingga usia anak saat ini. Yuk, mulai kenali alergi pada anak sedini mungkin untuk mengoptimalkan prestasinya!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pahami Faktor Pemicu Alergi pada Anak Lebih Dini"

Posting Komentar